Selasa, 08 Mei 2012

TEKNIK ANGKET SEBAGAI PROSEDUR PELAKSANAAN ASESMEN
DALAM MENGIDENTIFIKASI KECERDASAN
SOSIAL SISWA DI SEKOLAH


Oleh :
Fazrah Suleman


Abstrak

Penelitian dilatarbelakangi oleh minimnya program layanan bimbingan di sekolah, terutama dalam tingkat prosedur pelaksanaan analisis kebutuhan atau need asessment siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji keefektifan penggunaan teknik angket sebagai prosedur pelaksaan asesmen dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi experiment dengan disain non-equivalent pretest-posttest control group design. Penelitian dilaksanakan melalui empat tahapan sebagai berikut : studi pendahuluan, uji rasional layanan, pelaksanaan layanan, dan pengungkapan akhir untuk melihat keefektifan pemberian layanan. Hasil penelitian menunjukan 1) tenik angket secara umum merupakan salah satu bagian dari asesment teknik non tes, 2) rumusan prosedur pelaksanaan asesmen dalam pelayanan BK di sekolah dapat digunakan melalui teknik angket, 3) teknik angket efektif untuk pengumpulan data siswa secara akurat dan efisien. Sehingga teknik angket direkomendasikan untuk dipertimbangkan sebagai prosedur pelaksanaan asesmen dalam pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah untuk efektifitas pengumpulan data atau need asessment siswa di sekolah.

Kata kunci: Teknik Angket, Need Asessmen, Bimbingan dan Konseling.

  1. PENDAHULUAN
Situasi global membuat kehidupan semakin kompetitif dan membuka peluang bagi manusia untuk mencapai status dan tingkat kehidupan yang lebih baik. Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan (2010: 1) menjelaskan dampak positif dari kondisi global telah mendorong manusia untuk terus berfikir dan meningkatkan kemampuan. Adapun dampak negatif dari globalisasi adalah: (1) keresahan hidup dikalangan masyarakat yang semakin meningkat karena banyaknya konflik, stres, kecemasan dan frustasi, (2) adanya kecenderungan pelanggaran disiplin, kolusi dan korupsi makin sulit diterapkannya ukuran baik-jahat dan benar-salah secara lugas, (3) adanya ambisi kelompok yang dapat menimbulkan konflik tidak saja konflik psikis tapi juga konflik fisik, dan (4) pelarian dari masalah melalui jalan pintas, yang bersifat sementara dan adiktif seperti penggunaan obat-obat terlarang.
Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dipersiapkan sumber daya manusia Indonesia yang bermutu. Manusia Indonesia yang bermutu yaitu manusia yang sehat jasmani dan rohani, bermoral dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi secara profesional, serta dinamis dan kreatif. Hal ini sesuai dengan visi dan misi pendidikan nasional (Yusuf & Nurihsan, 2010: 2).
Hal yang mendukung bagi terciptanya manusia Indonesia yang yang bermutu adalah pendidikan yang bermutu pula. Pendidikan yang bermutu tidak cukup melalui inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga harus didukung oleh iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta didukung oleh profesionalisme dan sistem manajemen tenaga pendidik.
Secara mendasar profesinalisme tenaga pendidik telah diakomodasi dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.27 Tahun 2008 Tentang Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor :
Guru Bimbingan dan Konseling atau konselor sebagai pendidik profesional dituntut memiliki kompetensi pedagogis, profesional, kepribadian dan sosial.”
Ketentuan yang termaktub dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional menunjukan bahwa, guru pembimbing harus memiliki kompetensi profesionalisme dalam kualifikasi akademik dan kompetensi konselor, sehingga guru pembimbing atau konselor mampu untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi perkembangan dunia dengan berbagai macam dampak yang bisa menghambat perkembangan peserta didik.
Profesional atau kata dasarnya adalah profesi identik juga dengan kata keahlian, demikian juga Jarvis tahun 1983 (Martinis Yamin, 2009:3) mengartikan seorang yang melakukan tugas profesi juga sebagai seorang yang ahli (expert). Pada sisi lain profesi mempunyai pengertian seseorang yang menekuni pekerjaan berdasarkan keahlian, kemampuan, teknik, dan prosedur berlandaskan intelektualitas.
Secara mendasar, profesionalisme guru pembimbing atau konselor bukan suatu yang lahir tanpa syarat, artinya sesuatu yang hadir begitu saja tanpa proses belajar yang panjang. Proses yang akhirnya menjadikan guru pembimbing atau konselor sebagai agen pembelajaran memiliki posisi strategis untuk melakukan berbagai perubahan, peningkatan dan pengembangan dalam penyelengaraan proses pendidikan di sekolah secara terus-menerus dan berkesinambungan dan sekaligus dapat mendorong peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta didiknya untuk mencapai perkembangan optimal di dalam mempersiapkan peserta didik untuk meraih keberhasilan masa depan.
Untuk itu guru pembimbing atau konselor dituntut memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi konselor agar mampu memberikan pelayanan bimbingan dan konseling yang mandiri.
Salah satu kompetensi profesional yang harus dikuasai adalah memiliki penguasaan konsep dan praktis asesmen dalam pelayanan bimbingan dan konseling.
Gantina Komalasari, dkk (2011: 17) mendefinisikan asesmen sebagai proses pengumpulan, menganalisis, dan menginterpretasikan data atau informasi tentang peserta didik dan lingkungannya. Hal tersebut dilakukan untuk mendapat gambaran berbagai kondisi individu dan lingkungannya sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konselingyang sesuai kebutuhan.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa asesmen merupakan suatu metode pengumpulan data berupa informasi untuk memperoleh gambaran berbagai kondisi perserta didik dalam pelayanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan.
Asesmen dalam konsep bimbingan dan konseling memiliki posisi yang urgen, karena asesmen merupakan dasar dari rancangan program bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan. Gantina Komalasari, dkk (2011: 19) juga menambahkan bahwa penyusunan program bimbingan dan konseling di sekolah dimulai dari kegiatan asesmen, atau kegiatan mengidentifikasi aspek-asek yang dijadikan bahan masukan bagi penyusunan program.
Asesmen dalam bingan dan konseling dapat berupa teknik tes dan non tes. Gantina Komalasari, dkk (2011: 22) menjelaskan bahwa asesmen teknik nontes paling banyak dilakukan oleh konselor. Prosedur perancangan, pengadministrasian, pengolahan, analisis, dan penafsirannya relatif lebih sederhana sehingga mudah untuk dipelajari dan dipahami. Berbagai bentuk asesmen teknik non tes yang selama ini sering digunakan antara lain pedoman wawancara, pedoman observasi, angket, daftar cek masalah (DCM), sosiometri, alat ungkap masalah Umum (AUM-U), alat ungkap masalah belajar (AUM-PTSDL), infentori tugas perkembangan, dll.
Asesmen teknik non tes yang akan menjadi bahan acuan penelitian di sini adalah teknik angket.
Komalasari (2011: 81) mendefinisikan angket sebagai suatu alat pengumpul data dalam asesmen non tes, berupa serangakaian pertanyaanyang diajukan kepada responden (peserta didik, orang tua atau masyarakat). Winkel tahun 1987 (Komalasari, 2011: 81) juga mendefinikasikan angket sebagai suatu daftar atau kumpulan pertanyaan tertulis yang harus dijawab secara tertulis juga.
Dari definisi angket di atas maka dapat disimpulkan bahwa angket merupakan seerangkat alat yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi dalam bentuk pertanyaan tertulis yang diajukan kepada responden. Maka dengan menggunakan salah satu teknik nontes yaitu angket maka dapat dijadikan sarana pengumpulan data atau informasi yang dibutuhkan dalam pelayanan bimbingan dan konseling yang sesuai kebutuhan.
  1. METODE PENELITIAN
  1. Prosedur Pengumpulan Data: Telaah Pustaka
Telaah Pustaka
Penulisan jurnal ilmiah ini menggunakan metode studi pustaka berupa buku-buku, jurnal, artikel, dan browsing data dari internet yang telah teruji kevalidannya, berhubungan satu sama lain, relevan dengan kajian tulisan serta mendukung uraian atau analisis pembahasan.
  1. Pengolahan Data
Dalam penulisan jurnal ilmiah ini, analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, yakni pendekatan penelitian yang dirancang untuk menjawab pertanyaan penelitian atau hipotesis secara spesifik dengan penggunaan analisis statistik. Yang berarti bahwa data yang diperoleh akan dijalaskan sedetail mungkin untuk mendapatkan kesimpulan akhir dari uraian atau analisis pembahasan. Melalui pendekatan ini diharapkan diperoleh data mengenai gambaran secara empirik proses pengolahan data melalui teknik angket dalam pelayanan bimbingan dan konseling.

  1. HASIL PENELITIAN
  1. Konsep Dasar
  1. Definisi Angket
Sutoyo Anwar (2009: 168) mendefinisikan bahwa angket atau kuesioner merupakan sejumah pertanyaan atau pernyataan tertulis tentang data faktual atau opini yang berkaitan dengan diri responden, yang dianggap fakta atau kebenaran yang diketahui dan perlu dijawab oleh responden. Sedangkan Gantina Komalasari, dkk (2011: 81) mendefinisikan angket sebagai suatu alat pengumpul data dalam asesmen non tes, berupa serangakaian pertanyaanyang diajukan kepada responden (peserta didik, orang tua atau masyarakat).
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa angket merupakan angket serangkat alat yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi dalam bentuk pertanyaan tertulis yang diajukan kepada responden dalam hal ini adalah peserta didik, orang tua atau masyarakat.
Angket dikenal juga dengan sebutan kuesioner. Alat asesmen ini secara garis besar terdiri dari tiga bagian (Komalasari, 2011: 81), yaitu: (1) judul angket, (2) pengantar yang berisi tujuan atau petunjuk pengisian angket, dan (3) item-item pertanyaan, bisa juga opini atau pendapat, dan fakta.

  1. Fungsi Angket
Angket disusun dengan tujuan untuk menghimpun sejumlah informasi yang relevan dengan keperluan bimbingan dan konseling, seperti identitas pribadi peserta didik, keterangan tentang keluarga, riwayat kesehatan, riwayat pemdidikan, kebiasaan belajar di rumah, hobi atau informasi lainnya. Data yang diperolah berfungsi untuk: (1) mengumpulkan informasi sebagai bahan dasar dalam rangka penyususnan program, (2) untuk menjamin validitas informasi yang diperoleh dengan metode lain, (3) evaluasi prorgam BK, dan (4) untuk mengambil sampling sikap/pendapat dari responden (Gantina Komalasari, 2011: 81)

  1. Jenis-Jenis Angket
Menurut Gantina Komalasari (2011: 82), angket dapat dibedakan berdasarkan tiga jenis, yaitu: (1) bedasarkan bentuk pertanyaan atau pernyataan, (2) berdasarkan respondennya (sumber data), dan (3) berdasarkan strukturnya.
Berdasarkan bentuk pertanyaan atau pernyataan dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu: (1) angket terbuka, (open questionaire) merupakan bentuk angket yang pertanyaan atau pernyataannya memberi kebebasan kepada responden untuk memberikan jawaban atau pendapatnya sesuai dengan keinginan mereka, (2) angket tertutup (close questionaire) adalah angket yang pertanyaannya atau pernyataannya tidak memberi kebebasan kepada responden untik menjawab sesuai pendapat dan keinginan mereka, dan (3) angket semi terbuka (semi open qeustinaire) yaitu bentuk angket yang pertanyaannya atau pernyataannya berbentuk tertutup, tetapi diikuti pertanyaan terbuka.
Dilihat dari sumber datanya, angket dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) angket langsung, adalah bil angket itu langsung diberikan kepada responden yang ingin diselidiki, jawaban diperoleh dari sumber pertama tanpa menggunakan perantara, dan (2) angket tidak langsung, yaitu bila angket disampaikan kepada orang lain yang dimintai pendapat tentang kondisi orang lain, jawaban tersebut diperoleh dengan melalui perantara sehingga jawabannya tidak dari sumber pertama.
Dilihat dari strukturnya, angket dibedakan menjadi 2 pula yaitu: (1) angket berstruktur, yaitu angket yang bersifat tegas, konkret dengan pertanyaan atau pernyataan yang terbatas dan menghendaki jawaban yang tegas dan terbatas pula, dan (2) angket tidak berstruktur, dipergunakan apabila konselor menginginkan uraian lengkap dari subyek tentang sesuatu hal, di mana diminta uraian yang terbuka dan panjang lebar, disampaikan dengn mengajukan pertanyaan bebas.

  1. Kelebihan dan Kekurangan Angket
Seperti instrumen non tes yang lainnya, angket pula memiliki kelebihan dan kekurngannya. Oleh karena itu, penggunaannya harus iintegrasikan dengan alat asesmen lainnya, sehingga konselor dapat menemukan info yang relevan terhadap kondisi subjek yang akan diamati.
Gantina Komalasari (2011: 86-87) menjelaskan bahwa terdapat kelihan dan kelemahan dari angket. Berikut kelebihan dari angket, antara lain: (1) angket merupakan metode praktis karena dapat dipergunakan untuk mengumpulkan data kepada sejumlah responden dalam jumlah yang banyak dan waktu yang singkat, (2) merupakan metode yang ekonomis dari segi tenaga yang dibutuhkan antara lain tidak membutuhkan kehadiran konselor, (3) setiap responden menerima sejumlah pertanyaan yang sama, (4) pada angket tertutup memudahkan tabulasi hasil bagi konselor, (5) pada angket terbuka responden mempunyai kebebasan untuk memberikan keterangan, (6) responden mempunyai waktu cukup untuk menjawab pertanyaan, (7) pengaruh subjektif dapat dihindarkan, (8) pengisian angket dapat dibuatkan anonim sehingga responden bebas, jujur dan tidak malu-malu menjawab.
Sedangkan kekurangan dari angket antara lain: (1) responden sering tidak teliti dalam menjawab sehingga ada pertanyaan yang terlewati tidak dijawab, padahal sukar diulangi untuk diberikan kembali kepada responden, (2) sulit untuk mendapat jaminan bahwa responden akan memberikan jawaban yang tepat, (3) penggunaannya terbatas hanya pada responden yang bisa membaca dan menulis, (4) pertanyaan atau pernyataan dalam angket dapat saja ditafsirkan salah oleh responden, dan (5) sulit mendapatkan jaminan bahwa semua responden akan mengembalikan semua angket yang diberikan.

  1. Strategi Pengolahan Data Angket
  1. Langkah Penyusunan Angket
Berikut beberapa langkah penyusunan angket menurut Komalasari (2011: 85-86), yaitu:
  1. Menentukan tujuan yang akan dicapai dari penggunaan angket. Misal, angket disusun dengan tujuan untuk mengetahui kebiasaan belajar peserta didik di rumah, ingin mengetahui keterkaitan peserta didik terhadap tugas, ingin mengetahui kondisi keluarga, dan sebagainya.
  2. Mengidentifikasi variabel yang akan menjadi materi angket, misal persepsi peserta didik tentang pengasuhan orang tua, kebiasaan belajar, minat kegiatan ekstrakurikulerdan sebagainya, kemudian dijabarkan dalam kisi-kisi.
  3. Menyusun kalimat-kalimat pertanyaan atau pernyataan yang mewakili setiap indikator sebagaimana yang telah dijabarkan dalam kisi-kisi. Untuk menyusun pertanyaan atau pernyataan dalam angket, beberapa pedoman di bawah ini perlu diperhatikan konselor: (a) menggunakan kata-kata yang tidak mengandung makna ganda (ambigu), (b) susunan kalimat hendaknya sederhana tetapi jelas, (c) menghindari pemakaian kata yang tidak ada gunanya, (d) menghindarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu, (e) mencantumkan kemungkinan jawaban sesuai dengan kebutuhan data dan konstruk teori yang digunakan, (f) hindarkan kata-kata yang bersifat sugestif dan kata yang bersifat negatif, dan (g) pergunakan kata-kata yang netral, tidak menyinggung perasaan dan harga diri responden.
  4. Lengkapi angket dengan identitas responden jika diperlukan, dan pendahuluan yaitu berupa tujuan angket tersebut dan petunju pengisiannya.
  5. Untuk memperoleh angket dengan hasil baik, maka dapat dilakukan proses uji coba. Sampel yang diambil dalam uji coba haruslah sampel dari populasi dimana angket akan diberikn. Situasi uji coba juga harus sama, yaitu apakah angket harus diisi saat itu juga atau boleh dibawa pulang, dan dikumpulkan kembali pada waktu yang telah ditentukan.

  1. Langkah Pengadministrasian Angket
Sofyan Willis (2011: 32) memaparkan bahwa dalam upaya mengembangkan potensi siswa dan membantu pemecahan masalah yang dihadapinya, perlu adanya kegiatan layanan bimbingan dan konseling yang terorganisir, terprogram dan terarah.
Salah satu kegiatan dalam upaya pelayanan bimbingan dan konseling terhadap siswa adalah kegiatan need asessment atau analisis kebutuhan siswa yang dimaksudkan sebagai landasan pembuatan program layanan BK yang sesuai kebutuhan.
Salah satu asesmen dalam teknik non tes yang menjadi acuan penelitian di sini adalah teknik angket.
Berbicara mengenai angket, tentu ada langkah mengadministrasiannya. Pengadministrasian angket dalam pelayanan bimbingan dan konseling memiliki beberapa tahapan yaitu: (1) tahapan persiapan, yang meliputi penentuan kelompok respondenn, mempersiapkan angket sesuai tujuan dan membuat satuan layanan asesmen, (2) langkah pelaksanaan, yang meliputi memberikan verbal setting (menjelaskan akan tujuan, manfaat, dan kerahasiaan data), membagikan angket, menjelaskan kapan waktu pengisian angket, mengumulkan kembali angket setelah selesai diisi, dan (3) tahapan penglahan dan analisis hasil, yang meliputi tahap pemeriksaan kelengkapan hasil angket, dan membuat tabulasi hasil serta melakukan analisis.

  1. Langkah Pengolahan dan Analisis Hasil Angket
Pengolahan dan analisis hasil angket memerlukan kreatifitas dari konselor atau guru BK itu sendiri. Kreatifitas itu dapat berupa kecerdasan dalam pengolahan hasil angket serta bagaimana cara menganalisisnya. Dalam penelitian ini penulis mengambil sampel dengan melakukan eksperimen masalah kecerdasan sosial di sekolah A khususnya di kelas XI-A (sebagai contoh) di mana terdapat 20 siswa dalam kelas tersebut. Kelas A menunjukkan adanya indikasi siswa yang kecerdasan sosialnya tinggi dengan persentase 10%, 30% dan 60% keceerdasan sosialnya.


Grafik 1.1
Profil Kecerdasan Sosial Siswa
(Berdasarkan kategori rendah, sedang dan tinggi)
Grafik di atas menunjukkan bahwa di sekolah A, kelas IX-A terdapat siswa yang memiliki masalah kecerdasan sosial dengan terdapat tiga kategori yaitu kategori (1) siswa yang memiliki kecerdasan sosial yang rendah hanya 10%, kategori (2) siswa yang memiliki kecerdasan sosial sedang dipersentasikan menjadi 30%, dan kategori (3) siswa yang memiliki kecerdasan sosial tinggi terdapat 60%. Itu artinya bahwa siswa kelas IX-A di sekolah A ternayata memiliki jumlah siswa yang dikatakan tinggi dalam kecerdasan sosialnya. Dilihat dari hasil capaian siswa pada setiap indikator pada setiap dimensi menunjukan capaian yang beragam.
Berikut ini adalah hasil penelitian ditinjau dari capaian per-Aspek dan Indikator kecerdasan sosial. Aspek pertama yaitu kesadaran empati yang terdiri dari Indikator pertama yaitu empati dasar secara keseluruhan siswa memperoleh capaian skor 90%, indikator kedua yaitu penyelarasan memperoleh capaian skor 75%, indikator ketiga yaitu ketepatan empatik memperoleh capaian skor 65 %, dan aspek kedua yaitu fasilitas sosial yang terdiri dari indikator sinkronisasi memperoleh capaian skor 55%, indikator presentasi diri mencapai skor 60%, indikator pengaruh mencapai skor 90% dan terakhir indikator kepedulian mencapai skor 70%. Secara lebih rinci capaian pada setiap aspek maupun indikator dapat dilihat dalam grafik 1.2 sebagai berikut.

Berdasarkan data tersebut menunjukan tingkat capaian yang beragam, baik dalam keseluruhan aspek maupun indikator kecerdasan sosial. Hasil ini mengindikasikan bahwa diperlukan suatu rumusan layanan yang menyeluruh untuk meningkatkan seluruh dimensi kecerdasan sosial siswa.
Berikut langkah pengolahan data siswa melalui tes angket yaitu: dengan melakukan penghitungan data dari keseluruhan jumlah point soal yang dijawab responden dalam hal ini adalah siswa, dibagi jumlah keseluruhan point soal dibagi 100 persen, itulah hasil persentase dari tiap indikator yang menjadi aspek penilaian bagi siswa.
Kecerdasan Sosial
Kesadaran Sosial
  1. Empati Dasar
  2. Penyelarasan
  3. Ketepatan Empatik
  4. Pengertian Sosial
Fasilitas Sosial
  1. Sinkronisasi
  2. Presentasi diri
  3. Pengaruh
  4. Kepedulian





Dari perhitungan dan penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa teknik angket merupakan suatu sarana untuk menganalisis berbagai sejumlah informasi yang relevan dan akurat dengan keperluan bimbingan dan konseling, diantaranya adalah masalah kecerdasan sosial.
Hasil perhitungan dan penelitian menunjukan bahwa: 1) tenik angket secara umum merupakan salah satu bagian dari asesment teknik non tes, 2) rumusan prosedur pelaksanaan asesmen dalam pelayanan BK di sekolah dapat digunakan melalui teknik angket, 3) teknik angket efektif untuk pengumpulan data siswa secara akurat dan efisien.

  1. PENUTUP
Tingkat kecerdasan sosial siswa kelas sebelas Sekolah Menengah Atas A berada pada kategori kecerdasan sosial yang tingi pada setiap dimensi kecerdasan sosial.
Hasil validasi rasional pakar bimbingan dan konseling terhadap need asesmen dalam pelayanan bimbingan dan konseling penggunaan teknik angket dalam mengumpulkan sejumlah data dan informasi peseta didik dinilai layak sebagai suatu kerangka kerja layanan untuk mengolah sejumlah data maupun informasi diantaranya masalah kecerdasan sosial.












DAFTAR PUSTAKA

Komalasari, dkk. 2011. Asesmen Teknik Non Tes Perspektif BK Komprehensif.
Jakarta: PT. Indeks

Yusuf & Nurihsan. 2010. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya

Yamin, Martinis. 2009. Profesionlisme Guru & Implementasi KTSP. Jakarta:
Gaung Persada Press

Willis, Sofyan. 2011. Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta

Sutoyo, Anwar. 2008. Pemahaman Individu. Semarang: Widya Krya.


TEKNIK ANGKET SEBAGAI PROSEDUR PELAKSANAAN
ASESMEN DALAM PELAYANAN BIMBINGAN
DAN KONSELING DI SEKOLAH


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar